Insight     Tren Hybrid - Mengapa Elon Musk Pilih WFO ?

Tren Hybrid - Mengapa Elon Musk Pilih WFO ?

Jun 24, 2022

People

Share it:
            

Model Hybrid Working membuat karyawan tidak harus berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. 

 

Mereka bisa bekerja dari mana saja. Rumah, kantor, café, pantai, atau bahkan dari luar negeri. Syaratnya asal masih bisa terhubung dengan orang lain atau timnya. Dengan konsep seperti itu, para karyawan tidak lagi harus berada di kantor dari jam 09.00 hingga 17.00. 

 

Secara teknis perusahaan yang menerapkan skema Hybrid Working akan menentukan jadwal giliran masuk kantor. Bagi karyawan yang tidak mendapatkan giliran masuk ke kantor, mereka bebas memilih bekerja dari mana saja.

 

Belakangan hybrid working muncul sebagai kebutuhan. Semasa pandemi, banyak karyawan yang terpaksa bekerja dari rumah atau Work from Home (WFH), dan mereka merasa tetap bisa menyelesaikan pekerjaannya. Ketika pandemi Covid-19 mereda dan bakal memasuki masa endemi, mereka ingin tetap menerapkan WFH. 

 

Sementara, di sisi lain perusahaan memiliki aspirasi yang berbeda. Banyak perusahaan yang ingin karyawannya kembali bekerja dari kantor alias Work from Office (WFO). Maka, skema hybrid bisa menjadi pilihan. 

 

Namun, menurut Senior Advisor Human Capital PT Citilink Indonesia Effendi Ibnoe, penerapan hybrid working tidak bisa disamaratakan untuk semua perusahaan dan industri. Sebab setiap perusahaan dan industri memiliki karakter yang berbeda-beda. Soal ini Effendi Ibnoe memberikan catatan, "Para CEO khawatir bahwa WFH, WFA atau hybrid bisa menggerus inovasi." Effendi melontarkan hal itu dalam webinar yang diselenggarakan oleh Center of DIGITAL & HUMAN TRANSFORMATION (CDHX) Community Gathering, Sabtu (11/6).

 

 

Elon Musk Pilih WFO 

Bahkan perusahaan sekelas Tesla pun kini mewajibkan semua karyawan datang pabrik. CEO Tesla, Elon Musk, bahkan dengan tegas mengatakan karyawan bisa memilih mengundurkan diri jika tidak mau bekerja dari kantor. Perintah Musk itu tertulis jelas dalam email internal yang dikirimnya kepada staf eksekutif Tesla, Selasa (31/5), yang kemudian bocor ke publik.

 

Menurut Musk, aturan itu diterapkan supaya interaksi antar karyawan bisa terjalin secara teratur. Miliarder yang juga pemilik dari SpaceX itu menyebut akan mengawasi secara langsung kebijakannya itu. Jika ada karyawan Tesla yang tidak ikut aturan, Musk menyebut itu sama saja dengan pengunduran diri.

 

Setidaknya ada tiga alasan mengapa Musk mewajibkan karyawan Tesla harus WFO. Pertama, kehadiran fisik itu penting. Menurut pria kelahiran Afrika Selatan itu, pabrik atau kantor harus menjadi tempat di mana kolega berkumpul di satu tempat membahas hal-hal berkaitan dengan pekerjaan. Bukan kantor semu di tempat yang jauh. 

 

Kedua, menghindari kebangkrutan. Tesla pernah nyaris bangkrut ketika masih mencari cara untuk memproduksi massal sedan listrik Model 3, 2017 hingga 2019. Ketiga, untuk menghasilkan produk yang keren. Kata Musk, banyak perusahaan yang menerapkan WFO tidak bisa mengeluarkan produk baru yang bagus.

 

Jadi, merujuk pengalaman Tesla, WFO bisa menggerus ide-ide inovasi. “Dan, itu yang menjadi kekhawatiran para CEO," tegas Effendi.

 

 

Skema Hybrid di Dunia Pendidikan

Hal senada diungkapkan Director of HRD & Legal LP3I Karya Bakti Kaban (sebelumnya pernah bekerja di perusahaan IT, Logistic & Services dan beberapa perusahaan lainnya). LP3I adalah Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia. Katanya, selain perusahaan, jenis industri juga menentukan efektivitas penerapan sistem hybrid

 

Sektor pendidikan, misalnya, menjadi salah satu yang mengalami dampak terparah selama pandemi. “Jadi, biar industri yang menentukan apakah mau menerapkan WFH atau WFA. Di sektor pendidikan, kualitas anak didik yang belajar secara remote jauh sekali kualitasnya dibanding yang tatap muka. Ketika anak di rumah dan ada ujian, orang tuanya juga ikut ujian," seloroh Karya. 

 

Menurut Karya, tenaga pengajar seperti dosen tidak begitu masalah jika mengajar secara online. Ini berbeda dengan tingkat pendidikan di bawahnya. 

 

Jadi, Karya menekankan, ada aktivitas kuliah yang harus dilakukan secara fisik. Ini, misalnya, untuk mata kuliah yang membutuhkan praktik. Karya mengusulkan, sistem pembelajaran yang ideal untuk sekarang adalah dengan 80% pembelajaran tatap muka, dan 20% online. 

 

QuBisa


More Insight

How we can help your organization?

ONE GML

Subscribe our latest insight and event


CAREERSABOUT USCONTACT US

FOLLOW US

linkedin
fb
ig

© 2022 ONE GML Consulting